'
JAKARTA,Khatulistiwa news (17/07) - Bagaimana kejadian sebenarnya meninggal nya Brigadir J,anggota Brimob yang bertugas sebagai sopir pribadi istri Kadiv Propam Ferdy Sambo masih gelap, simpang siur dan penuh teka teki. Penjelasan demi penjelasan yang disampaikan pihak Polri berubah rubah, ini yang membuat publik semakin heran, bagaimana institusi yang mengedepankan slogan presisi ini menjadi sama sekali tidak profesional. Demikian ujar Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute berikan pernyataan singkat, diperoleh awak media melalui hubungan selular. Jakarta, Ahad (17/07)
Diketahui, hampir sepekan lewat baku tembak dgn Bharada Y di rumah dinas kediaman Kadiv Propam yang berlokasi di Duren Tiga Jakarta Selatan. Yang mana, Diduga bermula dari pelecehan terhadap istri Kadiv Propam, demikian menurut pemberitaan media tersiar beberapa hari terakhir ini.
Peristiwa bermula, polisi tembak polisi terjadi di rumah Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, pada Jumat (8/7) lalu
Peristiwa melibatkan sopir dinas pribadi istri Irjen Sambo, Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (27) dengan ajudan Irjen Sambo, Bharada E. Dalam peristiwa itu, Brigadir Yosua tewas dan menyisakan banyak kejanggalan. Rumah singgah yang dijadikan sebagai tempat isolasi mandiri Irjen Sambo dan keluarga beralamat di Jalan Duren Tiga Utara 1 Nomor 46 RT05/01, Duren Tiga, Pancoran Jakarta Selatan.
Sementara, Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute yang sempat menjabat sebagai Ketua BEM UI periode pada 2003-2004 atau setelah eranya Rico Marbun pun turut merespon serta menyampaikan, Sejak tewasnya Brigadir Yosua dengan berbagai luka yang terdapat pada tubuhnya baik luka tembakan maupun luka sayatan benda tajam membuat publik gempar.
" Video Keluarga Brigadir Josua di Jambi dilarang membuka peti mayat anaknya oleh petugas kepolisian membuat publik semakin marah. Ada apa sebenarnya dengan institusi ini," kata pria merupakan iluni mahasiswa UI Jurusan Teknik Gas dan Petrokimia dan menjadi ketua BEM UI itu.
Penuh tanda tanya, barang tentu ungkapnya menilai." Jika itu dilakukan untuk anggotanya sendiri, lalu bagaimana jika itu menimpa masyarakat sipil ? Bukankah akan semakin parah," kata Hidayat.
Bahkan, lebih lanjut, " Suara untuk mengungkap kasus ini secara tranparan dan terang benderang langsung datang dari MenKopolhukam Mahfud MD yang sedang berada di tanah suci Saudi Arabia. Mahfud MD yang juga menjabat sebagai ketua Kompolnas meminta sekretaris Kompolnas Benny Mamoto untuk mengawasi kasus ini," ujarnya.
Timbul Kejanggalan dari kasus penembakan ini memang sudah tercium dari awal. Bagaimana kejadian nya dikatakan terjadi pada hari Jum'at tetapi baru diumumkan kejadiannya oleh pihak Polri pada hari Senin. Alasannya nya pun cukup aneh karena ada hari raya idul adha. Dari penjelasan waktu sudah membuat masyarakat mulai bertanya tanya, ujar Hidayat.
Di samping itu, bahkan saat media melakukan peliputan di sekitar TKP juga banyak hal janggal yang ditemui dari matinya CCTV baik di TKP maupun di pintu masuk komplek yang merupakan komplek Kepolisian. RT setempat yang juga merupakan seorang pensiunan Jenderal Polisi juga sama sekali tidak mengetahui terjadinya peristiwa penembakan yang menewaskan Brigadir J tersebut.
" Saat media mengunjungi komplek tersebut ternyata juga mendapat intimidasi dari beberapa orang yang bahkan sampai menghapus rekaman rekaman yang diambil. Ini semakin menguatkan bahwa ada yang ingin berusaha menutup nutupi kasus ini agar tidak diketahui oleh publik," kata Nur Hidayat.
Maka itulah, lanjut Matnoer sapaan akrab Achmad Nur Hidayat menyampaikan Publik berharap bahwa kasus tewasnya Brigadir Yosua ini dibuka seterang terangnya jangan ada yang ditutup tutupi,karena yang dipertaruhkan dalam perkara ini adalah nama institusi kepolisian.
" Jangan sampai untuk melindungi Pati Kepolisian maka penyelesaian kasus ini dilakukan secara tidak profesional," tukas Matnoer.
Jabatan seseorang akan ada batas akhirnya termasuk para pejabat kepolisian tapi institusi kepolisian selama Republik ini ada maka institusi kepolisian akan tetap ada." Publik sangat berharap kepada TGPF yang telah dibentuk agar bekerja secara jujur dan profesional,karena terlalu besar taruhannya jika harus menutup nutupi fakta yang sebenarnya terjadi hanya untuk melindungi pihak tertentu," tandas Hidayat menutup pernyataan singkatnya.(Niko)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar