BERITA TERKINI

Gunung Megang dan Adat yang Tetap Hidup di Tengah Zaman

 


Oleh: Marshal. ( Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat )


Muara Enim,Khatulistiwa news  (06/02) Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, merupakan salah satu ruang hidup adat Melayu  yang hingga kini tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Di wilayah ini, adat istiadat tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, melainkan masih dipraktikkan sebagai nilai hidup yang membentuk cara masyarakat berinteraksi, bermusyawarah, dan memaknai kebersamaan.

Rangkaian tradisi yang hidup di Gunung Megang memperlihatkan kuatnya warisan budaya Melayu Sumatera Selatan. Mulai dari adat pernikahan, tradisi gotong royong, hingga penghormatan kepada leluhur, semuanya dijalankan dengan kesadaran kolektif bahwa adat adalah penyangga harmoni sosial.

Salah satu tradisi yang masih lestari adalah Pegi Ngambek, prosesi adat dalam pernikahan. Tradisi ini dilakukan saat rombongan mempelai laki-laki menjemput mempelai perempuan. Di pintu masuk, rombongan akan dihadang palang pintu yang disertai atraksi kuntau—seni bela diri tradisional—sebagai simbol kesiapan, keberanian, dan adab seorang calon suami. Prosesi ini dilengkapi dengan hantaran wajib seperti lemang dan dodol, yang menjadi syarat adat sebelum pengantin laki-laki diperkenankan masuk.

Nilai kebersamaan juga tercermin kuat dalam tradisi Bebehas, yakni gotong royong menumbuk padi menjadi beras. Tradisi ini bukan hanya soal pekerjaan kolektif, tetapi juga ruang sosial tempat nilai saling membantu dan kesetaraan diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam berbagai hajatan dan kendurian, masyarakat Gunung Megang masih mempraktikkan Makan Behidang. Tradisi makan bersama ini dilakukan dengan duduk bersila melingkar, biasanya enam hingga tujuh orang dalam satu hidangan, tanpa menggunakan sendok. Lebih dari sekadar cara makan, Behidang mengajarkan kesederhanaan, kebersamaan, dan etika dalam berbagi rezeki.

Hubungan spiritual dengan leluhur tetap dijaga melalui tradisi nyekar makam empat puyang, yakni ziarah ke makam para pendiri desa: Puyang Mulya Sakti, Puyang Kemas Ripandan, Puyang Malan, dan Puyang Milin yang berada di Desa Penanggiran atau Panang Jaya. Ziarah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan, doa keselamatan, sekaligus pengingat akan asal-usul dan tanggung jawab menjaga adat.

Di Desa Lubuk Mumpo, hidup pula kepercayaan adat Kenong Pulun, yang berkaitan dengan peninggalan Puyang Pulun dan Putri Patek berupa sebuah kenong dan sembilan helai rambut. Bagi masyarakat setempat, peninggalan ini bukan untuk disakralkan secara berlebihan, melainkan dihormati sebagai simbol sejarah dan identitas adat.

Sementara itu, dalam prosesi peminangan di Desa Penanggiran dikenal istilah Nampun Kule, sebuah tahapan adat yang menandai keseriusan dan etika keluarga calon mempelai dalam mengikat hubungan kekeluargaan.

Berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa adat istiadat di Gunung Megang bukan sekadar seremoni, melainkan nilai hidup yang membentuk jati diri masyarakat. Di tengah perubahan zaman, keberlanjutan adat ini menjadi penanda bahwa identitas budaya tetap terjaga—hidup, adaptif, dan relevan sebagai fondasi sosial masyarakatnya.(Red jz)

Khatulistiwa News Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.