Oleh : H Albar Sentosa Subari, SH SU ( Ketua Lembaga Adat Melayu Peduli Marga Batang Hari Sembilan ) dan
Marshal ( Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat Indonedia )
Muara Enim, Khatulistiwa news (09/02) Indonesia Emas, suatu tujuan mulia bangsa Indonesia yang ditandai seratus tahun dari kemerdekaan Indonesia ( 1945-2045)., kalau dihitung-hitung dari sekarang tinggal 20 tahun lagi ( satu generasi yang lahir memasuki usia awal dewasa).
Para pendahulu kita di tahun 1945 telah berhasil membangun " jembatan emas", ditandai dengan proklamasi, yang mempunyai tujuan kemerdekaan Indonesia adalah mencapai Indonesia merdeka yang adil dan makmur, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sedangkan Indonesia emas adalah saat nya warga negara Indonesia sudah mendapat maksud dan makna suatu kemerdekaan itu?.
Tentu untuk mencapai tujuan itu bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Dia harus mempunyai tekad yang sama dari penyelenggara negara ( eksekutif, legislatif dan yudikatif), serta elemen lainnya.
Untuk mencapai visi misi yang sama, penulis teringat di masa pemerintahan sebelumnya apa yang terkenal dengan Garis Garis Besar Haluan Negara ( GBHN), yang dirumuskan oleh lembaga yang berdaulat ( MPR RI - masa itu).
Dengan adanya GBHN semua program yang akan datang telah menjadi bagian dari prinsip dasar pembangunan negara di segala bidang. Sehingga tidak terkesan masing masing sektor berjalan sendiri sendiri. Tergantung pada kebijakan kebijakan kontemporer.
Seperti yang sedang hangat dibicarakan program MBG yang sampai sekarang belum jelas arahnya ada yang setuju dan ada yang menolak dengan argumentasi masing masing.
Malah ada anggota legislatif sudah merancang akan dibuatkan UU sebagai dasar hukum.
Namun di sisi lain di lapangan masih banyak terjadi persoalan persoalan yang kompleks, misal sudah ribuan siswa keracunan akibat mengkonfirmasi MBG., yang satu sama lain saling mencari faktor penyebab misalnya menyalahkan petani, karena padi atau berasnya ada mengandung bahan berlebihan. Tentu pertanyaan nya apakah beras yang kita konsumsi sehari-hari beda dengan beras MBG, yang selama ini tidak ada keluhan, ?.
Beberapa hari ini viral keluhan pemegang BPJS tertentu mengalami permasalahan sehingga non aktif ( tidak dapat digunakan berobat).
Video yang masih berkembang kementerian keuangan melalui bapak Purbaya ingin mengganti program MBG dengan memberikan santunan uang masuk rekening orang tua murid tapi ada juga yang tetap ngotot lanjutkan MBG. Persoalan persoalan seperti ini sebenarnya tidak terjadi kalau sudah ada apa yang dulu dikenal GBHN ( zaman orde baru), ada program jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek).
Jangka panjang 25 tahun ke depan menuju Indonesia Emas 2045.(Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar