BERITA TERKINI

Sultan Mahmud Badaruddin II, Harimau Palembang yang Tak Pernah Jinak

 


Oleh : Marshal ( Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat )


Muara Enim, Khatulistiwa news  (11/02) Ditepian Sungai Musi, sejarah pernah mencatat sosok pemimpin yang memilih kehormatan di atas kenyamanan. Ia adalah Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II), Sultan Palembang-Darussalam yang namanya kini terpatri sebagai simbol perlawanan dan harga diri bangsa.

Dikenal dengan julukan “harimau yang tidak pernah jinak”, SMB II bukan sekadar penguasa istana. Ia adalah pemimpin yang memadukan kecerdasan politik, keteguhan iman, dan keberanian menghadapi hegemoni kolonial Inggris dan Belanda.

Ditempa Ilmu dan Nilai Keislaman

Lahir di Palembang pada 1767 dengan nama Raden Hasan, ia tumbuh dalam lingkungan istana yang kuat tradisi keislamannya. Ayahnya, Sultan Muhammad Bahauddin, mendidiknya dengan ilmu agama, tata pemerintahan, dan adab kepemimpinan.

Bagi masyarakat Palembang ketika itu, sultan bukan hanya kepala pemerintahan, tetapi juga penjaga syariat dan pelindung umat. Nilai inilah yang membentuk watak SMB II: tegas, berprinsip, dan tidak mudah tunduk.

Pada 12 April 1804, ia resmi naik takhta menggantikan ayahnya. Masa kepemimpinannya segera diuji oleh ambisi kolonial yang ingin menguasai jalur perdagangan dan sumber daya Palembang.

Menolak Perjanjian yang Mencederai Kedaulatan

Inggris dan Belanda datang membawa perjanjian dagang yang tampak menguntungkan, tetapi sesungguhnya menggerus kedaulatan Kesultanan. SMB II membaca arah angin sejarah itu dengan jernih. Ia menolak tunduk pada kesepakatan sepihak yang menempatkan Palembang di bawah kendali asing.

Penolakan itu bukan sekadar sikap politik, melainkan cerminan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap amanah rakyatnya. Dalam pandangannya, kedaulatan bukan barang tawar-menawar.

Perang Menteng dan Strategi Pertahanan

Salah satu babak penting perlawanan itu dikenal sebagai Perang Menteng (1819). Di bawah komandonya, pasukan Palembang membangun benteng-benteng pertahanan yang kokoh di sekitar pusat pemerintahan dan jalur Sungai Musi.

Strateginya membuat pasukan kolonial tidak mudah menaklukkan Palembang. Perlawanan berlangsung sengit. Dalam sejarah Sumatera, perjuangan Palembang di era SMB II tercatat sebagai salah satu yang paling keras menghadapi ekspansi Belanda.

Namun kekuatan militer kolonial yang lebih besar akhirnya memaksa keadaan berubah.

Jatuhnya Palembang dan Pengasingan

Pada 14 Juli 1821, Belanda berhasil menguasai Palembang. SMB II ditangkap bersama keluarga dan diasingkan ke Ternate, Maluku Utara.

Pengasingan itu bukan akhir perjuangan. Meski jauh dari tanah kelahiran, ia tetap menolak tunduk. Sikapnya menunjukkan bahwa kekuasaan bisa dirampas, tetapi martabat tidak bisa dipatahkan.

Selama 31 tahun di pengasingan, SMB II tetap berdakwah dan menulis karya sastra berupa syair dan hikayat. Spirit keislaman dan kecintaan pada tanah air tetap ia jaga hingga akhir hayat.

Ia wafat di Ternate pada 26 November 1852. Makamnya kini menjadi situs sejarah yang menautkan Palembang dan Ternate dalam satu jejak perjuangan.

Warisan Sejarah dan Simbol Perlawanan

Pengakuan negara atas jasanya datang kemudian. Pada 29 Oktober 1984, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Namanya diabadikan sebagai:

Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang,

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II,

serta jalan-jalan utama di kota tersebut.

Wajahnya juga pernah menghiasi uang pecahan Rp10.000 edisi 2005, menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kedaulatan adalah bagian dari fondasi republik ini.

Menjaga Martabat sebagai Amanah

Sultan Mahmud Badaruddin II mengajarkan satu hal penting: kepemimpinan adalah amanah. Dalam tradisi Islam, pemimpin bertanggung jawab menjaga kemaslahatan umat dan mempertahankan keadilan.

SMB II memilih jalan yang berat—perlawanan, pengasingan, dan kehilangan takhta—demi menjaga kehormatan negeri. Ia mungkin terasing secara fisik, tetapi namanya tetap hidup dalam ingatan kolektif bangsa.

Di tepian Musi hingga ke Ternate, kisahnya berbisik tentang keteguhan iman dan keberanian mempertahankan harga diri. Sebuah teladan bahwa dalam sejarah bangsa, selalu ada sosok yang berdiri tegak ketika kedaulatan dipertaruhkan. ((Red jz)

Khatulistiwa News Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.