Oleh: Marshal
(Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat)
Muara Enim,Khatulistiwa news (14/02) Di tengah perubahan sosial yang kian cepat, masyarakat Rambang di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, masih memelihara tradisi adat sebagai penyangga nilai keluarga. Salah satunya adalah Tradisi Nerime Mangian, sebuah prosesi penyambutan pengantin baru yang sarat makna dan kearifan lokal.
Tradisi Nerime Mangian dilaksanakan di rumah pengantin pria, tepat setelah pengantin wanita diantar oleh keluarga asalnya. Prosesi ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda diterimanya pengantin wanita sebagai bagian utuh dari keluarga besar suaminya.
Penyambutan dilakukan oleh keluarga besar pengantin pria yang telah berkumpul. Sebelum dipersilakan masuk ke rumah, pengantin wanita terlebih dahulu diberikan minuman air putih. Air menjadi simbol ketulusan dan kejernihan niat dalam memasuki kehidupan baru. Setelah itu, pengantin wanita disambut dengan kain panjang yang dikenal dengan sebutan kain penyambut.
“Terutama jika ibu pengantin pria masih ada, maka beliau yang pertama kali menyambut. Setelah itu disusul anggota keluarga lainnya,”.
Kain penyambut tersebut kemudian diberikan kepada pengantin wanita sebagai bagian dari ritual penerimaan adat.
Prosesi berlanjut dengan mengajak pengantin wanita menuju dapur. Di sana, ia diminta memegang atau mengambil beras dari tempat penyimpanan. Menurut penjelasan para orang tua terdahulu, simbol ini bermakna pengenalan ruang tanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga.
“Supaya pengantin wanita tahu tempat masak nantinya,” demikian filosofi yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Tradisi Nerime Mangian mengandung pesan sosial yang kuat. Ia menegaskan bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua individu, tetapi juga perjumpaan dua keluarga besar. Melalui ritual ini, tercipta suasana keakraban, penerimaan, dan rasa saling memiliki antara kedua belah pihak.
Lebih dari itu, Nerime Mangian juga mencerminkan pandangan hidup masyarakat Rambang tentang peran, tanggung jawab, dan harmoni dalam rumah tangga. Nilai-nilai tersebut disampaikan tidak lewat nasihat panjang, melainkan melalui simbol-simbol sederhana yang mudah dipahami dan dihayati.
Di tengah modernisasi dan perubahan pola hidup masyarakat, Tradisi Nerime Mangian tetap bertahan sebagai penanda identitas kultural. Ia menjadi bukti bahwa adat istiadat tidak selalu bertentangan dengan zaman, selama nilai-nilai dasarnya—kebersamaan, penghormatan, dan kekeluargaan—tetap dijaga.
Bagi masyarakat Rambang, menjaga tradisi bukan sekadar melestarikan masa lalu, melainkan merawat fondasi sosial agar kehidupan keluarga dan masyarakat tetap berakar kuat di tengah arus perubahan.(Red)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar