JAKARTA. Khatulistiwa news(29/08) - Front Perjuangan Rakyat (FPR) bersama organisasi anggotanya menyatakan kecaman terhadap represifitas aparat kepolisian dalam aksi demonstrasi yang dilakukan pada Kamis, 28 Agustus 2025 di Jakarta.
Represifitas dengan bentukpenangkapan, pemukulan, pembubaran paksa, tembakan gas air mata, hingga tindakan penabrakan brutal menggunakan kendaraan taktis Brimob yang menyebabkan korban luka dan meninggal dunia.
" Tercatat 400 orang ditangkap, 150 orang di antaranya mengalami luka berat, serta 1 orang korban jiwa," jelas Sekjen Front Perjuangan Rakyat (FPR), Symphati Dimas Rafi'i
Bahkan, Seorang massa aksi yang juga merupakan Driver Ojek Online bernama Affan Kurniawan (21) meninggal dunia setelah ditabrak dan terseret oleh kendaraan taktis Brimob Polri.
Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 WIB di sekitar wilayah Pejompongan, di mana satu unit kendaraan taktis Brimob melaju dan menabrak 5 orang massa aksi.
Affan Kurniawan meninggal dunia sesaat setelah tiba di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo," ujanya
Sedangkan, satu (1) orang lagi atas nama Moh. Umar Amarudin (30) mengalami luka berat dan sedang mendapat perawatan intensif di RS Pelni.
Terkait hal ini, Front Perjuangan Rakyat (FPR) menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan dalam aksi tersebut, dan menuntut pembebasan tanpa syarat atas seluruh massa aksi yang ditangkap.
FPR juga menyatakan kecaman keras terhadap Pemerintahan Prabowo Subianto dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia atas Tindakanrepresif terhadap aksi demonstrasi rakyat dan harus bertanggung jawab atas seluruh korban massa aksi.
" Presiden Prabowo Subianto menggunakan aparat kepolisian di bawah kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo untuk memukul gerakan demokratis rakyat, melakukan intimidasi dan ancaman," jelasnya
Selain itu, Kemuka Sekjen FPR menyampaikan juga menuntut tanggung jawab Said Iqbal sebagai pimpinan Partai Buruh dan serikat buruh “kuning” KSPI atas kekacauan yang terjadi dalam mobilisasi aksi massa hari ini.
Kekerasan, penangkapan dan Tindakan represif terus meningkat di masa pemerintahan Prabowo Subianto sebagai boneka Imperialis Amerika Serikat.
" Oleh karena itu, FPR menyerukan kepada seluruh gerakan demokratis rakyat Indonesia untuk mengintensifkan perlawanan terhadap Pemerintahan fasis Prabowo Subianto dan memperluas perlawanan anti imperialis dan anti feodal di Indonesia," pungkasnya
Jakarta, 28 Agustus 2025Hormat kami ( Niko)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar