Oleh : Marshal ( Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat Indonesia )
Muara Enim, Khatulistiwa news (24/01) Mengenal masyarakat Minangkabau Sumatera Barat dengan struktur sosial tidak terbentuk secara instan. Pada mulanya, masyarakat Minang hanya terdiri dari empat suku Induk, yaitu Bodi, Caniago, Koto, dan Piliang. Dari empat pilar inilah, lahir dua sistem adat atau kelarasan yang menjadi dasar demokrasi dan hierarki di Ranah Minang.
Dua Pemimpin, Dua Ideologi
Perkembangan suku-suku ini tidak lepas dari peran dua tokoh legendaris yang memiliki pemikiran besar dalam menyusun tatanan masyarakat:
Datuk Perpatih Nan Sabatang: Beliau memimpin suku Bodi dan Caniago. Sistem yang dianut adalah Kelarasan Bodi Caniago, yang mengedepankan nilai-nilai demokratis, egaliter (kesetaraan), dan musyawarah. Dalam sistem ini, keputusan diambil berdasarkan prinsip "Duduak samo randah, tagak samo tinggi." ( kesetaraan dan kebersamaan, bahwa setiap orang memiliki derajat yang sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, serta harus saling menghormati dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat )
Datuk Katumanggungan: Beliau memimpin suku Koto dan Piliang. Sistem yang dianut adalah Kelarasan Koto Piliang, yang lebih hierarkis dan terstruktur. Sistem ini menghormati jenjang kepemimpinan dengan filosofi "Bapucuak di ateh, baaka di bawah." (
Sistem yang Saling Melengkapi
Meskipun memiliki perbedaan mendasar dalam cara memimpin, kedua sistem adat ini tidak saling menjatuhkan. Sebaliknya, Kelarasan Bodi Caniago dan Koto Piliang diciptakan untuk saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan sosial. Hal ini membuktikan bahwa sejak zaman dahulu, masyarakat Minangkabau sudah mengenal keberagaman pemikiran namun tetap dalam satu kesatuan adat.
Pemekaran Menjadi Puluhan Suku
Seiring berjalannya waktu, terjadinya persebaran penduduk, proses migrasi, dan perkembangan zaman menyebabkan struktur masyarakat Minangkabau semakin kompleks. Empat suku induk tadi kemudian mengalami pemekaran.
Kini, jumlah suku di Minangkabau telah bertambah hingga lebih kurang empat puluh suku, termasuk suku-suku seperti Mandaliko, Jambak Singkuang, dan Malayu. Meskipun telah berkembang banyak, setiap anggota suku tetap merujuk pada salah satu dari dua kelarasan besar tersebut dalam menjalankan tradisi adatnya.
Warisan Kepemimpinan
Sejarah pembentukan suku ini mengajarkan masyarakat Minangkabau tentang pentingnya organisasi dan kepemimpinan. Hingga saat ini, identitas sebagai orang Caniago, Bodi, Koto atau Piliang tetap menjadi kebanggaan yang dijaga melalui garis keturunan ibu ( Matrelenial ), memastikan bahwa warisan pemikiran para datuk terdahulu tetap lestari.
Beragam Pendapat tentang asal-usul nama Minangkabau. Ada yang berasal dari legenda yaitu berdasarkan yang tertuang dalam Tambo Alam Minangkabau. Ada juga
pendapat yang berkembang dari mulut ke mulut.
Di samping itu, penelitian tentang penamaan Minangkabau ini telah dilakukan oleh para ahli, seperti ahli sejarah, antropolog, dan sosiolog. Berikut ini dijelaskan asal-usul nama Minangkabau menurut pendapat para ahli, berdasarkan isi tambo, dan secara etimologi yang berasal dari bahasa Sanskerta.
Menurut para Ahli
1. Prof. Dr. R.M. N.G. Poerbacaraka
Poerbacaraka berpendapat bahwa nama Minangkabau, berasal dari kata Minanga Tamwan. Masyarakat Sumatera Barat menyebutnya Minanga Kanwa dan lama kelamaan diucapkan Minangkabau.
2. Prof. Dr. Muhammad Hussein Nainar
Prof. Dr. Muhammad Hussein Nainar adalah seorang guru besar di Universitas Madras. Beliau berpendapat bahwa sebutan Minangkabau berasal dari Menon Khabu yang artinya ‘Tanah Pangkal’ atau ‘Tanah Permai’.
3. Prof. Vander Tuuk
Vander Tuuk berpendapat bahwa asal nama Minangkabau dari kata Pinang Khabu yang artinya ‘Tanah Asal’ atau ‘Tanah Pangkal’ atau ‘Tanah Leluhur’.
4. Sulthan Muhammad Zain.
Berdasarkan Tambo Pariangan yang menceritakan asal nama Minangkabau, diceritakan bahwa pada suatu waktu sebuah kerajaan asing datang demi melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertumpahan darah, maka disepakati dengan mengadu kerbau sebagai penentuan kemenangan. Para pasukan asing menyediakan kerbau aduan yang besar dan kuat, di sisi lain masyarakat Minangkabau hanya menggunakan seekor anak kerbau yang sedang menyusui. Dalam pertempuran tersebut, anak kerbau mengira kerbau besar tersebut adalah induknya, berlari mencari susu di bagian perut kerbau lawan, sementara di tanduk kerbau yang kecil telah dipasang semacam besi tajam, lantas perut kerbau besar tersebut robek.
Dari kemenangan adu kerbau tersebut terinspirasi kata-kata “manang kabau” yang artinya ‘menang kerbau’. Lantas, mengapa tidak disebut “manang kabau” tetapi “Minangkabau”? Attubani (2012) menyatakan, hal itu disebabkan kemenangan tersebut lantaran anak kerbau memakai “minang” yaitu taji yang tajam dan runcing sehingga merobek perut lawannya.
Adapun, empat suku induk Minangkabau tersebut, yakni Bodi, Chaniago, Koto dan Piliang
Berikut adalah empat suku induk yang mengawali budaya Minangkabau di Sumatera Barat:
1. Suku Bodi
Nama Suku Bodi berasal dari kata bodhi yang memiliki arti orang yang terbangun atau mendapat petunjuk.
Bodi juga berasal dari nama pohon Bodhi yang penting bagi penganut agama Buddha.
Masyarakat Suku Bodi tersebar di wilayah darek, yakni pedalaman Minangkabau. Seperti Kabupaten Tanah Datar, Kota Payakumbuh, dan Kabupaten Lima Puluh Kota.
Penghulu adat suku ini diberi gelar datuk, di antaranya Datuk Marajo Nan Rambayan dan Datuk Sinaro Nan Pandak.
Suku Bodi berkerabat dengan Suku Chaniago, bahkan terdapat gabungan suku keduanya di kenagarian Lubuk Jambi, Riau, dan Kuantan Mudik.
2. Suku Chaniago
Suku Chaniago mempunyai arti nama sesuatu yang berharga, berasal dari gabungan kata cha dan ago.
Suku ini menganut falsafah hidup demokratis, sehingga masyarakat harus melalui proses musyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan.
Tokoh terkenal yang dari Suku Chaniago, di antaranya ada Denny Sumargo Chaniago dan Pangi Syarwi Chaniago.
3. Suku Koto
Nama empat suku induk Minangkabau berasal dari bahasa Sanskerta, di mana Suku Koto berarti benteng atau kubu.
Awalnya Suku Koto Bersama dengan Suku Piliang sebelum akhirnya terbagi karena perkembangan populasi.
Suku Koto dipimpin oleh Datuk Ketumanggungan dengan aliran Aristokratis Militeris.
Sejumlah tokoh terkenal yang berasal dari suku ini, di antaranya Basrizal Koto, Nasrul Koto, dan Hardimen Koto. Makna di Sumatera Barat.
4. Suku Piliang
Suku Piliang menggabungkan dua kata, yakni ‘Pele’ yang berarti banyak dan ‘Hyang’ berarti Dewa. Dengan demikian, arti nama suku ini banyak Dewa atau pilihan tuhan.
Dahulu suku tersebut merupakan satu kesatuan dengan Suku Koto sebagai pemegang pemerintahan sebelum akhirnya terjadi pemekaran.
Suku ini tersebar di Tanah Datar, Lima Puluh Kota, Agam, Solok, Padang, Riau, Kuantan Singingi, Kampar, dan wilayah lainnya.
Salah satu orang terkenal yang memiliki keturunan Suku Piliang adalah Natasha Rizky. (Red)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar