Oleh:
Dr. H. Syarif Husain, S.Ag. M.Si ( Widiyaiswara Madia BDK Palembang )
Dan
Marsal ( Penghulu KUA Kecamatan Muara Enim )
Muara Enim, Khatulistiwa news (20/01)-Semua yang ada di alam semesta ini, termasuk diri kita masing masing pasti akan menuju kepunahan, hilang dan berganti alam yakni alam akhirat.
Kita terlahir ke alam dunia ini bukan hanya untuk menyibukkan diri dalam kesibukan dunia saja, kita bertujuan hidup bukan hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan dan jabatan saja.
Pekerjaan akan berakhir, pejabat akan pensiun, glamor dunia akan sirna tak berbekas. Pakaian bagus yang kita banggakan akan usang,
kendaraan mewah akan ditinggalkan dan pasti akan menjadi rongsokan, dari rumah mewah yang kita miliki akan pindah tempat menuju kuburan.
Ketahuilah oleh kita sekalian, bahwasannya kita diberikan hidup
dan kehidupan di dunia ini adalah untuk berbuat baik dan ta’at kepada Allah. Allah akan menyediakan suatu tempat yang penuh
dengan kenikmatan bagi hamba-hamba-Nya yang taat yakni surga.
Allah pun menyiapkan bagi hamba-hambanya yang durhaka, pelaku
maksiat dan selalu mendustakan ayat-ayatnya dengan siksaan yang
pedih di neraka jahannam, na’udzubillah.
Kita sebagai manusia yang di anugerahi iman sangat berbeda
dengan makhluk Allah yang lainnya seperti binatang, mereka
dihidupkan hanya untuk makan, sedangkan kita makan untuk hidup,
bahkan manusia yang menggunakan akalnya, ia mulia dan sangat
mulia karena kita diperintah untuk taat kepada-Nya. Hakikatnya
kehidupan yang sedang kita jalani ini akan mempunyai konsekwensi
terhadap pertanggungjawaban dihadapan Allah Swt., mari kita simak
firman Allah dalam surat al-Qiyamah ayat ke-36:
Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
Wahai kaum musulimin, kita hidup di alam dunia ini untuk menjadi khalifah fil ard, menjalankan Amanah-Nya, beribadah kepada-Nya.
Maka mulai sekarang, hari ini, saat ini, niatkanlah
bahwa hidup kita di alam dunia ini dengan niat menuju kehidupan mulia, sesuai tuntunan syari’at Allah dan sunnah rasul-Nya.
Janganlah kita mengikuti jalan mereka yang sesat, yakni mereka yang
tidak tahu jalan menuju kemuliaan hidup, sebagaimana ditegaskan
oleh Rasulullah Saw., dari riwayat Ibnu Hibban.
Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang sombong,
rakus kepada harta benda sehingga mengumpulkannya dengan cara yang haram, banyak bicara haram untuk mendapatkan harta, tidak
pernah beribadah di malam hari, hanya memikirkan makanan di
siang hari sehingga lalai untuk melakukan kewajiban, mengetahui
urusan dunia dan tidak mengetahui urusan akhirat.
Menyimak hadits tersebut di atas tentu sangat mengerikan, kenapa? Karena Beliau menyindir bahwasannya ada manusia, bahkan banyak manusia model seperti ini, hidupnya hanya selalu mementingkan kehidupan dunia saja, hanya mementingkan isi perutnya saja, bahkan tidak lagi memperhatikan yang dicarinya tersebut apakah halal atau haram, mereka lupa dengan Dzat yang
telah menciptakan dirinya, sombong dan rakus terhadap harta bahkan
tamak terhadap harta dan jabatan, terus dikejarnya demi memuaskan
hawa nafsunya.
Tentunya, kita semua tidak mau apabila kita dikategorikan
dengan manusia-manusia seperti tersebut. Dengan senantiasa
mengikuti pembinaan dari orang-orang yang mendapatkan amanah
untuk menyampaikan kebenaran, harapan kita adalah menjadi
manusia-manusia baik dan mulia dalam pandangan Allah Swt.
Manusia-manusia yang sempurna imannya adalah manusia yang
masuk di dalam kriteria manusia yang mempunyai tujuan hidup
mulia. Disamping menjalankan ketaatan kepada-Nya, beramal saleh,
ia pun selalu berinteraksi dalam kehidupannya dengan orang-orang baik, senantiasa menebar kebaikan-kebaikan. Orang-orang seperti inilah yang dikehendaki oleh Rasulullah Saw., dalam riwayat Bukhari-Muslim:
Orang muslim yang sempurna imannya adalah seorang muslim
yang mampu menahan lisan, tangan (dan anggota tubuh lainnya) untuk tidak menyakiti orang lain, baik muslim ataupun non muslim tanpa hak.
Berbuatlah dengan semua perilaku yang membawa kebaikan, berbuatlah dengan dimulai hal yang baik, maka pasti kamu telah merencanakan suatu kehidupan mulia dan mendapat kemuliaan dari
Allah. Maka tujuan hidup mulia itu terangkum dalam firman Allah surat al- Bayyinah ayat ke-5 yang artinya:
Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta
menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.
Berbekal dengan perihal yang baik dan selalu menebar kebaikan
adalah tujuan hidup mulia, berbekallah dengan segera
mengumpulkan bekal akhirat sebelum dikejutkan oleh malaikat maut
datang menjemput. Malaikat maut akan datang tiba-tiba tanpa permisi, berbekallah dengan ilmu dan amal, belajarlah ilmu agama
lalu amalkan. Jangan lalai dalam kehidupan dunia yang sering terlenakan. Kumpulkan bekal yang bermanfaat bagi masa depan di alam kubur dan akhiratnya.
Sebagaimana penyair pernah mengungatkan kita:
َ
Wahai orang yang disibukkan dengan urusan dunia dan terbuai
dengan panjangnya angan-angan. Ingatlah kematian itu datang tiba tiba dan kuburan adalah tempat (balasan) amal, Ketahuilah, bahwa kehidupan itu hanya dua hari. Satu hari
berpihak kepadamu dan satu hari melawanmu. Maka pada saat ia bersamamu, jangan bangga dan gegabah, dan pada saat ia melawanmu bersabarlah, karena keduanya adalah ujian bagimu. Apapun yang ada di dunia ini tidak lain hanyalah mimpi yang dialami
oleh orang yang sedang tidur, Dia merasakan kesenangan di dalamnya selama beberapa saat, dan kemudian terbangun untuk menghadapi kenyataan. (Niko)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar